Thursday, June 20, 2013

Fotografi = Kedewasaan

Mungkin anda pernah merasakan kesal karena orang lain tidak menghargai anda atau barangkali anda juga sering marah karena orang lain tidak memperhatikan anda. Sepertinya saling menghormati, menghargai dan tidak mencibirkan karya orang lain, seolah menjadi sesuatu yang terlalu mewah untuk dimiliki dan temui saat ini. Padahal, suka atau tidak, kita hidup saling berinteraksi dengan orang lain.

Sekarang ini, banyak fotogrefer kita lebih mengembangkan paradigmanya masing-masing untuk menjalani profesinya melalui lensa kepentingan, ketimbang kegentingannya. Akibatnya, tak ada lagi ruang untuk saling menghormati dan menghargai sesama fotografer.

Meski ada hal tersebut, tapi hanya sebatas dalam satu komunitas saja. Banyak sekali penghargaan kepada fotogrefer itu diberikan di dalam kelompoknya sendiri. Mereka saling memuni di dalam kelompok dan sangat sempit pola berpikirnya. Bila ada fotografer lain menghasilkan karya bagus di luar kelompoknya, mereka dengan cepat berlomba-lomba untuk mencibirnya dengan nada minus.
Seni Adalah Kebebasan

Seni adalah nilai yang tidak identik dengan keindahan. Seni mengusung sebuah ketidakterbatasan dalam berkkreasi dan berwujud karena memang pada awalnya seni dibentuk oleh proses yang berasal dari dalam diri manusia itu sendiri. Dengan demikian tiap individu punya kebebeasan berkehendak untuk mewujudkan ekspresinya seiring dengan proses dirinya sendiri memaknai sesuatu. Seni juga tak pernah anti dengan perubahan. Justru karena perubahan itulah seni bisa berkembang luas tanpa kehilangan identitas tapi sangat mungkin memunculkan identitas baru.

Bagaimana dengan fotografi?
Sebagai salah satu media transformasi seni, fotografi beserta seluk beluk dan perangkat di dalamnya ini juga tak kalis dari perubahan. Bahkan fotografi terkesan sangat membuka diri terhadap hal-hal baru. Contoh sahihnya adalah dengan semakin beragam aliran fotografi yang ada beserta peralatan pendukungnya. Saat ini lingkaran dunia fotografi tidak akan jauh dari Fotografi Digital dan Digital Imaging. Keduanya merupakan bentuk akulturasi antara seni dan teknologi yang sanggup memunculkannya entitas baru dari seni fotografi.
Sesungguhnya esensi fotografi adalah bermain dengan cahaya. Bila kita mampu memainkan dan menyiasati arah datangnya cahaya ke objek foto dengan baik dan benar, tentu akan menarik dan menghasilkan fotografi yang bagus. Tapi bila kita salah, tentu hasilnya akan mengecewakan.



Arah datangnya cahaya terhadap subyek foto memiliki beberapa kemungkinan yaitu: dari depan/ frontlight, belakang/ backlight, samping kiri atau kanan/ sidelight, atas/ toplight, dan bawah/ bottomlight. Tiap-tiap arah datangnya cahaya tersebut mempunyai keuntungan, kerugian dan kesulitannya masing-masing dalam pemotretan.